Aku percaya, dalam setiap hubungan yang
melibatkan dua orang yang berlawanan jenis dan sudah melewati batas enam bulan
pertama dan terus bertahan, rasa suka itu akan berubah menjadi sebuah komitmen.
Hanya diperlukan komunikasi dan kepercayaan untuk membentuk kekuatan dari
komitmen itu. Dan itu sungguh tidak mudah.
Seberapa kuat komitmen itu, tergantung
dari komunikasi dan kepercayaan yang terjalin dalam suatu hubungan…
Dan lagi-lagi, sahabatku yang satu ini,
sebut saja namanya Luna, curhat tentang hubungannya dengan seorang laki-laki
yang sebut saja Edgar –keren nggak tuh namanya >.<.
Luna dan Edgar ini pacaran sudah hampir
dua tahun, tapi mereka selalu saja bertengkar. Bertengkar yang selalu membuat
Luna melukai dirinya sendiri, entah itu dengan gunting, silet, atau benda tajam
lainnya, bahkan ia pernah memberitahuku kalau ia ingin bunuh diri. *Apa-apaan
ini!!!*
Aku sudah sering bilang pada Luna,
setelah membaca blognya Mbak Annesya, kalau pacaran itu seharusnya lebih banyak
bahagianya daripada sedihnya, nah dia sedih terus, nangis terus, jarang sekali mendengarnya
cerita tentang hal-hal membahagiakan yang pernah dilakukan Edgar untuknya.
Pernah suatu hari, Edgar minta putus
sama Luna di saat Luna lagi sakit, ya saya sebagai sahabatnya yang saat itu
tidak tahu kalau Edgar minta putus dan fokus menjaga Luna langsung menelepon
Edgar dengan harapan Edgar dapat membantu mengantar Luna ke rumah sakit. Tapi Edgar
tidak mengangkat teleponku. Dan sms darinya bikin syok tingkat akut, “Jangan
campuri hubunganku dengan Luna kalau kau tidak mau saya hancurkan.”
O-My… sinting tuh orang! Tapi demi
menjaga perasaan Luna aku tidak memberitahukannya tentang sms itu.
“Dia itu kalau datang baiknya Suci, jadi
baik sekali,” ucap Luna setiap kali aku memasang tampang benci pada Edgar.
“Iya, kalau datang jahatnya juga, jadi
jahat sekali!” Dumelku.
Saya tidak tahu apapun tentang apa yang
dipikirkan Luna saat ini, tapi kalau aku jadi dia, aku tidak akan tahan. Apa aku
belum bilang kalau Edgar pernah menyatakan cinta kepada sahabat Luna yang lain,
tapi dia tidak mau mengakuinya sampai Luna mencari tahu sendiri kebenarannya
bahwa Edgar memang pernah menyatakan cinta? Oh ya, aku juga lupa bilang kalau
Edgar pernah bertemu dengan mantannya dan membawa mantannya itu ke kos-kosan
temannya –hanya Tuhan yang tahu apa yang mereka lakukan di kosan kosong itu-
saat ia masih pacaran dengan Luna.
Lagi-lagi, aku tidak tahu alasan Luna
mempertahankan laki-laki itu.