Walaupun hari ini bukan hari Ayah, tapi aku ingin menceritakan
sedikit tentang Ayahku. Seorang kepala keluarga di dalam keluargaku yang kecil,
sederhana, tapi heboh.
Ayahku seorang polisi, badannya tinggi dan besar, tidak
terlalu gemuk karena Ayah sering olahraga bulu tangkis. Di antara hidung dan
bibirnya, ada sederet kumis hitam tebal yang melengkung ke bawah, sangat sangar
kalau di lihat, aku pun gemetaran kalau berhadapan dengan ayahku.
Kalau aku pikir-pikir, hal yang membuatku tidak ingin menikahi
pria dengan pekerjaan sebagai polisi itu adalah ayahku. Aku menghindarinya. Polisi,
TNI, Satpam, atau apapun yang sejenis, aku tidak mau.
Aku paham resiko apa yang harus dihadapi jika menikahi pria
polisi. Ugh…
Aku tidak terlalu akrab dengan ayahku. Aku canggung jika harus
berbicara dengannya. Aku merasa, lidahku kelu dan kemampuan berbahasaku tumpul
jika berhadapan dengannya.
Aku tidak membenci ayahku. Tidak sama sekali. Aku hanya merasa
tidak cocok dengannya, itu saja.
Ayah selalu marah-marah, hal sekecil apapun, dia marahi. Pernah
suatu hari, ayah mencari barang –aku lupa apa-, dia berkata, “Itu semua kalian,
tidak pernah simpan barang di tempatnya. Dibiarkan saja. Kalau tidak ada, baru
mencari semua!” Dengan intonasi yang tinggi. Kami sekeluarga langsung bergegas
mencari barang tersebut. Kami semua. Tanpa terkecuali.
Ya, kami semua takut sama ayah.
Aku pernah punya pengalaman kurang mengenakkan yang membuatku
memang tidak bisa dekat dengan ayah. Aku masih SD waktu itu. tapi kenangan itu
masih membekas sampai sekarang.
Ya, mungkin karena didikan ayah yang keras di Akpol sana yang
membuat karakternya seperti ini.
Tapi kalau aku mengingat saat-saat dimana ayah yang mencuci
semua pakaian kotor yang menumpuk selama seminggu tanpa mengeluh, karena kami
anak-anak perempuannya sakit dan dilarang melakukan kegiatan yang membuat
kesehatan kami menurun, aku kagum.
Mama pernah cerita. Sewaktu kami masih kecil, Mama yang
bertugas mencuci semua pakaian, sedangkan ayah yang menjemurnya. Semua tetangga,
terutama ibu-ibunya yang doyan gosip, kagum melihat ayah yang menjemur
pakaian-pakaian itu. Karena menurut ibu-ibu itu, laki-laki hanya bertugas
mencari nafkah, tapi ayahku juga membantu pekerjaan rumah tangga ibuku sehingga
mereka menyebutnya suami yang baik.
Ya, ayah memang baik. Terlepas dari sikap marah-marahnya yang
kelewatan. Dikit-dikit marah. Dikit ajah marah. Marah melulu. Hehehehe
Kadang-kadang, kalau waktunya makan malam, justru ayah yang
memasak sedangkan mama hanya nonton sinetron favoritnya di tv. Ayah lebih
pintar masak daripada mama. Dan masakannya benar-benar enak.
Dan kalau kami, anak-anaknya rajin, entah membersihkan rumah,
mencuci pakaian, memasak dan pekerjaan rumah lainnya, ayah pasti memberi kami
uang jajan tambahan. Hihihihi… ayah tidak segan-segan mengeluarkan selembaran seratus
ribuannya untuk kami.
Di kompleks rumahku, ada beberapa polisi yang terlibat
masalah. Ada karena narkoba, korupsi, dan sebagainya.
Ayah selalu bilang, “Bohong itu tidak baik. Lebih baik berkata
jujur walaupun itu berita buruk. Dan jangan korupsi, karena itu masalah hukum terberat.”
Ya, ia tidak pernah berniat sedikitpun untuk menilap uang
sepeserpun, walaupun terkadang keluarga kami harus hutang di bank untuk
membayar uang kuliahku dan dan sekolah adik-adikku. Walaupun terkadang mama
menggadaikan kalung emasnya di pegadaian. Walaupun terkadang Mama tidak pernah
membeli baju baru untuk lebaran hanya untuk memenuhi kebutuhan keempat anaknya
yang rewel minta dibelikan BB. Hehehehe…
Kata mama, sewaktu aku kecil, ayah sering mengajakku ke kantornya. Aku dengan tas ransel imut yang berisi baju-baju kecil di dalamnya digandeng ayah menaiki tangga kantornya yang tinggi. Aku ingat, aku pernah kecapekan naik dan turun tangga mengikuti langkah ayah yang besar-besar.
"Kamu juga biasa dititipin sama Polwan kalau Ayah lagi tugas," kata Mama lagi.
"Jadi, polwan itu mau jaga aku, Mam?" Tanyaku.
"Ya iyalah, tidak ada yang bisa menolak ayahmu." Jawab Mama.
Ya, itu sedikit tentang ayahku. Aku tidak membencinya. Aku menyayanginya.
Hanya saja, aku tidak bisa berkomunikasi dengan baik dengannya. Mungkin karena
kami sama-sama pendiam. Well, Nunu, adikku yang lebih cerewet, yang lebih akrab
dengan ayah.
Aku sedikit belajar darinya, setidaknya, akhir-akhir ini aku
sering bicara dengan ayah. Tidak seperti dulu, bahkan seharian kami tidak
saling ngobrol.
Hhh… bikin ngiri aja Nunu itu.